Showing posts with label Me as a traveler. Show all posts
Showing posts with label Me as a traveler. Show all posts

27 July 2015

Haru di Kalibiru, Yogyakarta

Awalnya Kalibiru nggak termasuk di list kunjungan gw dan Dewi, Bahkan kita belum punya list khusus ke mana kita akan pergi beberapa jam sebelum kita berangkat ke Jogja. Garis besarnya kita Cuma mau beach hopping di daerah Gunung Kidul, City Tour di Jogja dan main ke merapi. Rencana ke Kalibiru kita dapat karena ngeliat foto Kalibiru yang bertebaran di google image saat kita dalam perjalanan ke Bandara. Walaupun kita nggak tau sama sekali  dimana letak Kalibiru, gimana medan jalannya dan gimana caranya untuk bisa sampai ke sana, Tekad kita berdua sangat bulat “Pokoknya kita harus sampe kesana!”

Di penginapan, sebelum tidur gw mulai googling jalur ke kalibiru dan menyiapkan transportasi. Beberapa artikel google menulis medan jalan ke kalibiru sangat berat, dan rata-rata perjalanan dilakukan berkelompok alias nggak ada cewek yang nekad pergi berdua. Semakin banyak baca semakin bikin gw gelisah. Ditambah lagi, temen gw yang asli Jogja menyarankan kita untuk nggak kesana kalo cuma berdua karena jalurnya rawan longsor kalo musim hujan! Setelah berdiskusi panjang dengan Dewi akhirnya kita sepakat kalo di tengah jalan medannya semakin sulit, kita pulang aja. Hahahahahaa

Jam 10 pagi setelah sarapan, kita berangkat dari penginapan di malioboro naik mobil sewaan. Dewi yang nyetir, gw yang jadi penunjuk jalan, dibantu sama embak-embak Waze. Info dari waze perjalanan dari Malioboro ke Kalibiru via Wates/Purworejo dapat ditempuh selama 1,5 jam.
Muka sebelum diseksa sama jalanan

Jalur wates/purworejo terbilang mulus, jalanannya sepi. Sesekali mobil kita papasan dengan truk besar. Mendekati waduk sermo, mobil kita masuk kawasan hutan (gw nggak tau ini nyasar apa bukan) yang jalanannya sempit dan rusak. Perasaan kita berdua mulai nggak karuan karena cuma ada mobil kita yang melintas. 10 menit berkendara kita ketemu mobil sedan putih plat Jogja. Dengan semangat45 gw nyapa si mas dan ceweknya yg lagi berhenti dan kelihatannya bingung milih persimpangan jalan.

“Mas, mau ke Kalibiru ya?” sapa gw dengan muka ramah

“Enggak Mbak. Saya mau ke Sermo”

JEDER.TERNYATA KITA GAK SATU TUJUAN.


Mobil kita berpisah di persimpangan jalan. Kira-kira 10 menit setelah hutan, Mobil memasuki kawasan Waduk sermo dan jalanan kembali mulus. 

Arah waduk Sermo. Perhatikan tikungan nya!

Akhirnya dapet aspal. Sebelah kiri Waduk Sermo
Nggak jauh jalan dari Waduk Sermo, kita dibawa masuk ke dalam hutan lagi. 
Sebelum masuk Hutan
Kali ini medan jalannya lebih parah. Jalan yang kita lewati hanya bisa dilintasi dua mobil secara bergantian dengan bagian kiri jurang dan sebelah kanan bukit kapur. There’s no way turning back. Sesekali kita lewat tanjakan curam yang berbelok tajam, dan turunan yang rasanya kalo lewat sana kayak naik roller coaster. Saat itu kita cuma bisa berdoa minta cuaca cerah dan dikasih keselamatan sampai tujuan. 

Thank God kita sampai di tujuan saat kita mulai putus harapan. Wisata Kalibiru  dikelola secara swadaya dan swakarya oleh masyarakat setempat. Dari area parkir mobil, kita masih harus jalan kaki melewati tanjakan curam untuk bisa sampai ke sana. Yang nggak kuat nanjak, bisa pakai jasa ojek dengan tarif 5000 rupiah.

Tiket masuk wisata alam kali biru terbilang murah, 5000 rupiah saja. Dengan uang segitu, kita sudah bisa duduk di batu besar menikmati angin sepoi-sepoi sambil menatap waduk sermo  dengan warna hijau turquoise-nya yang tenang dikelilingi barisan bukit dan pegunungan. Bahagia itu sederhana dan murah ya ? :p 
Dewi lagi amaze sama pemandangannya

Kalo menikmati pemandangan aja nggak terasa ‘nendang’, pacu adrenalin lo dengan ikutan flying fox yang talinya cuma disambung dari satu pohon ke pohon yang lain. Spot favorit anak-anak muda di sini sih rumah pohon yang fotonya sering kita liat di media social itu. Untuk dapat foto disana, harus siap kesabaran ekstra karena peminatnya banyak dan satu orang dapat jatah 5 menit buat foto-foto diatas. Saat kita ke sana banyak banget anak muda yang ngantri untuk foto. Beberapa diantara mereka datang ke sana khusus untuk foto di rumah pohon lalu langsung pulang.

Rumah Pohon Spot foto favorit

Gw dan dewi menghabiskan waktu satu jam lebih di sana ngobrol-ngobrol di atas batu sambil ngeliat pemandangan. Sesekali kita ngobrol sama pengunjung disana dan sharing perjalanan kita selama di Jogja. Mereka pastinya kaget pas tau kita naik kesini Cuma berdua dan bawa mobil sendiri.

Iya. Kita berdua juga nggak nyangka kita bisa sampe ke sini. Kita berdua yang cewek kota banget, jarang melakukan hal yang nyerempet bahaya dan yang dalam keadaan waras pasti lebih milih pake driver untuk perjalanan seperti ini, but we made it. Kita berhasil sampai disini dengan bangga dan haru. Ada quotes bahasa inggris yang bunyinya “Its not about the destination, but the journey” Tapi buat kita berdua kali ini quotesnya beda 

“Destination and the journey its all that matter”

Wisata Kalibiru

Tiket Masuk: Rp 5.000 (Termasuk asuransi/santunan kecelakaan)
Flying Fox : Rp 25.000
Ojek : Rp 5.000
Foto di rumah pohon : Rp 10.000

Rute dari ring road utara: 
Ring Road Utara – Jalan Wates/Purworejo – Terminal Wates ke kanan – Pertigaan pertama setelah mini market WS ke kiri – Setelah palang kereta api ke kiri – Ikuti jalur beraspal – Pertigaan belok kiri (Penunjuk arah ke Waduk Sremo) – Pertigaan tugu kecil ke kanan (bukan ke kiri kearah waduk Sremo) – Setelah jembatan belok kiri turunan (Penunjuk arah warna biru tidak terlalu besar ke Kalibiru) – ikuti penunjuk arah ke Kalibiru di  jalur aspal kecil tersebut  - Kalibiru

Aplikasi waze dengan kata kunci : "Wisata Alam Hutan Kemasyarakatan Kalibiru"

Tips: Cek kondisi kendaraan sebelum berangkat


16 March 2015

Segalanya tentang Indonesia menurut turis Belgia

Hai kenalin namaku Kevin. Aku suka malu kalo difoto sendiri. 

Mas Bule yang fotonya kamu liat di atas namanya Kevin. Gw kenal sama dia karena kita tour sunrise bareng di Setumbu dan Borobudur. Kevin udah 3 minggu keliling Indonesia. Backpacking trip nya di Indonesia dimulai dari Nusa Tenggara dan berakhir di Yogyakarta.Selama 3 minggu lebih menjelajah Indonesia, inilah kesan Kevin tentang Indonesia (Negara yang paling disukai dari seluruh negara di Asia Tenggara yang pernah dia kunjungi)

Alam Indonesia keren banget

Itu komentar Kevin pas gw tanya kenapa Indonesia jadi negara fovoritnya dari semua negara yang pernah dia kunjungi. Dengan semangat 45 Kevin cerita tentang pengalamannya ketemu ikan pari besar pas diving di Wakatobi, pemandangan alam yang keren di Flores dan pengalaman menegangkan melihat komodo dari dekat di pulau Komodo.

Rasanya bangga deh jadi orang Indonesia Indonesia.
                                                                                  
Orang Indonesia ramah dan murah senyum

Kevin cerita, dimana pun dia berjalan dia pasti dapet senyum dan sapa dari orang Indonesia. Dibandingkan dengan Perancis misalnya, Kalo papasan sama orang lain di jalan boro-boro saling sapa, dikasih senyum aja udah sukur. Nah supaya cewe-cewe Indonesia makin ramah, gw ngajarin kevin untuk menambah kata "cantik" di akhir kalimat setiap dia nyapa cewe Indonesia. Tapi sayangnya, dia nggak berani praktekin, katanya takut disangka ngajak mesum sama cewe. hahahahaha

Cuma di Indonesia, Kevin merasa tiba-tiba jadi artis

Bukan Cuma senyum dan sapa doang yang Kevin dapat selama jalan ke tempat wisata di Indonesia. Di sini, dia juga merasa tiba-tiba jadi artis. Gimana bisa? Karena setiap dia ke tempat wisata pasti banyak banget yang minta foto bareng. Awalnya gw nggak percaya. Ngapain juga orang ngajak dia foto bareng? Emang sih menurut gw dia mirip sama Mark Zuckerberg tapi yaaa masa segitunya.

Akhirnya kemudian gw percaya, saat gw lagi duduk-duduk ngobrol di puncak Borobudur bareng Kevin dan sekumpulan turis Rusia, suasana pagi yang tenang tiba-tiba gaduh karena segerombolan anak sekolah dateng nyamperin Kevin dan turis rusia lalu minta foto bareng. Gerombolan satu selesai, gerombolan yang lain datang. Begitu terus sampe turis Rusia mulai gerah dan ngajak pindah.

Yang paling ngenes adalah saat Kevin dan turis Rusia diajak foto bareng ibu guru dan murid study tour nya. Karena diantara gerombolan turis cuma gw sendiri yang punya muka alhamdulillah ayu ala Indonesia, rombongan Bu Guru dan Muridnya secara tegas menolak mengajak gw di foto mereka, padahal turis Rusia udah protes “What about her? She is our friends too.” “No. No.” kata ibu-ibu pake topi pantai lebar warna putih.

Sumpah aku sedih banget.. belum pernah merasa sesedih ini karena nggak diajak foto bareng..

Makanan di Indonesia enak dan murah

Ternyata selama 3 minggu lebih mengembara di Indonesia Kevin termasuk bule yang paling banyak dan paling berani nyoba makanan khas Indonesia. Beberapa bule backpacker lain paling banter nyobain nasi goreng jalanan doang udah kepedesan. Nah, Kevin walaupun takut makan pedes, punya prinsip hajar bleh dalam memilih makanan. “Selama ada di Indonesia apa salahnya dicoba?”begitu katanya. Beberapa street food Indonesia favorit kevin adalah :Gado-gado, sate ayam, mie ayam, sate padang, martabak, kerang rebus,rambutan, gudeg, indomi goreng, dan nasi goreng. Makanan paling murah yang pernah dia beli seumur hidupnya adalah nasi kucing nya Jogja. Sementara minuman paling enak yang dia pernah coba di Indonesia adalah Teh botol sosro. :))

Orang Indonesia hobi foto

Pertama kali ngeliat anak abegeh Indonesia bawa stik warna-warni ke tempat wisata, Kevin sungguh takjub (halah lebay deh kev). “wah keren banget abege Indonesia kemana-mana bawa pancingan” bathin Kevin dalam hati. Ternyata oh ternyata.. tongkat yang Kevin duga sebagai pancingan adalah alat bantu foto yang sering dia lihat di ebay.
Menurut Kevin budaya berpergian ABG Indonesia berbeda banget dengan dia yang ABG dari Belgia. Begitu sampai di tempat wisata, ABG Indonesia selalu terlihat sibuk dengan selfie stick nya,setelah foto-foto mereka kemudian pergi. Sedangkan ABG Belgia, hal yang pertama dilakukan begitu sampai di tempat wisata adalah menikmati atmosfir tempat wisata, baru kemudian berfoto. ABG Belgia juga nggak suka selfie. Sukanya ngambil foto pemandangan sekitar.

Cuaca di Indonesia menyenangkan
“Everyday feels like summer here!” Kevin sangat suka cuaca di Indonesia. Walaupun kelembaban nya tinggi, Kevin merasa cuaca di Indonesia lebih menyenangkan daripada di Belgia.

Orang Indonesia gila tekhnologi
Di tempat makan, di tempat wisata, di jalan, menurut Kevin orang Indonesia selalu terlihat sibuk dengan gadget. Kevin amaze banget pas tau rata-rata orang Indonesia punya dua buah handphone keluaran terbaru sedangkan dia masih pake handphone android jadul, lebih kaget lagi pas ngeliat orang Indonesia nenteng powerbank kemana-mana.

Bahasa Inggris orang Indonesia bagus
Menurut Kevin, dibandingkan dengan orang Thailand atau Vietnam, orang Indonesia termasuk jago bahasa Inggris. Dan pengucapan bahasa Inggris kita termasuk jelas dan mudah dimengerti menurut mereka.

Orang Indonesia punya banyak Social Media
Kalo kenalan sama orang Indonesia, dia selalu ditanyain punya path, nggak? Punya twitter nggak? Punya instagram? Follow dong.. Dan Kevin Cuma punya satu social media. Facebook.

Takut Kena DBD     
Di perjalanan pulang, dengan muka serius, Kevin nanya sama gw “Elsya, mungkin nggak sih gue kena dengue disini?” Jelas gw bingung jawabnya. Mau bilang nggak mungkin takut mendahului Tuhan, mau bilang mungkin, kok lucu ngebayangin bule masuk RS gara-gara demam berdarah. Ternyata sebelum ke sini, atas saran dokter, kevin udah suntik anti demam berdarah dulu supaya nggak ketularan. Nah, saat pulang dari Borobudur dia curhat udah beberapa hari ini dia batuk pilek , dan dia takut batuk pilek itu gejala demam berdarah. :))

04 August 2014

Hotel yang aneh

Hotel berhantu, kurang air atau hotel dengan resepsionis yang cuma paham bahasa planet, mungkin udah biasa gue datangi. Tapi, setiap gue tanya sama diri sendiri (*maklum nggak pernah ada yang nanyain sih) "Hotel mana yang paling aneh yang pernah gue inapi" cuma nama hotel ini yang gue ingat: The Grey Boutique Inn hotel, Legian.

Gue menginap di hotel ini ketika gue liburan ke Bali sama sepupu gue, Dewi. Hotel ini udah di book oleh Dewi lewat booking.com dua minggu sebelum kita tiba di Bali. Kenapa nggak nyari penginapan on the spot di Bali? Karena Dewi bawa banyak banget tas besar dalam rangka pulang kampung ke Indonesia, selain itu penerbangan gue dan Dewi pun dari bandara yang beda. Dewi berangkat dari Melbourne sedangkan gue dari Jakarta. Dewi diperkirakan sampai di Bali jam 12 siang, sedangkan gue baru bisa sampai di Bali jam 6 sore. 

Sekilas nggak ada yang aneh sama hotel ini. Front desk nya rapi, ruang tunggu tamu nyaman, hotel staff nya pun ramah. Gue dan Dewi sempet cipika-cipiki dan ngobrol sebentar di ruang tunggu tamu, sampai akhirnya kita ke kamar untuk naro barang bawaan. 

Teras hotel
Loby Hotel
Biasanya saat buka pintu kamar hotel, hal yang paling pertama kita liat pasti kasur hotel yang empuk beserta sprei nya yang udah kebayang harumnya. Di Grey Boutique inn, hal pertama yang gw liat saat gw buka pintu kamar adalah WC/toilet/jamban/ apapun -itu- namanya. Gw shock.

denah kamar mandi setelah pintu masuk

Ruang Shower dan toilet difoto secara terpisah
Saat itu gw masih coba berpikir positif, mungkin tadi gw masuk lewat pintu belakang yaa.. Dan setelah 5 menit memeriksa ruangan kamar, gw gak menemukan pintu masuk lain selain pintu tadi. Pintu yang ada di kamar ini sudah sangat jelas hanya ada dua: Pintu masuk dan pintu balkon.
Kanan:Pintu depan Kamar. Kiri:Teras kamar

Oke, mungkin saat pertama kali ngeliat desain kamar hotel ini, gw menganggap kamar ini unik, seru dan karakter desain nya sama seperti arti nama hotel ini dalam bahasa Indonesia : abu-abu. Tapi keunikan hotel ini sirna saat gw pulang ke hotel habis beli sarapan di luar dan mau masuk kamar, sedangkan Dewi  baru mulai melaksanakan hajat manusiawi nya a.ka. taking shit. Walhasil gw harus nunggu di luar kamar kira-kira 15 menit sampai Dewi menuntaskan hajatnya. Dari kejadian ini, kita sepakat untuk tidak keluar kamar sebelum penghuni kamar menuntaskan hajat masing-masing. Kasian nunggu di depan kelamaan, kayak tamu nggak diundang. 

Hal aneh lain yang ada di kamar mandi ini adalah kehadiran properti tangga bambu di samping wc. Kenapa pula harus ada tangga bambu di wc?? buat nyodokin WC mampet? sebagai alat pelampiasan seksual? buat nyolong mangga? Buat bunuh diri? Buat apa mas?? Jawab mz buat apa???!!

Tadinya gw berpikir mungkin bangunan ini masih perlu perbaikan, jadi untuk jaga-jaga, staff hotel naro tangga di kamar mandi supaya gampang kalo mau ganti lampu kamar, ganti genteng bocor dan lain-lain. Ternyata oh ternyata tak lain dan tak bukan tangga ini didayagunakan sebagai tempat gantung handuk bersih dan baju kotor. Selain itu, gw kesulitan menemukan fungsi lain dari kehadiran tangga bambu ini di kamar mandi. well done your think broh designer. very well done.

Kamar mandi dan kamar tidur ruangan ini dipisahkan oleh sebuah headboard dari batu marmer atau mungkin granit yang juga dapat difungsikan sebagai lemari pakaian.  Mungkin broh desainer terbayang kehidupan jaman batu, dan menjadikannya inspirasi desain kamar hotel ini. Yang jelas, mau dirapihin kayak gimanapun baju-baju bersih kita di lemari ini, akan keliahatan selalu berantakan. Jadi ya mending nggak usah dirapihin. :p
Lemari batu
Properti lain yang nggak kalah uniknya di hotel ini adalah tempat sampah, dan tas untuk membawa barang-barang tamu yang kesemuanya terbuat dari koran. Koran ini di daur ulang sedemikian rupa, hingga menyerupai tas jinjing dan tempat sampah.

Kiri: Tas sampah di toilet. Kanan:Tas yang masih belum jelas fungsinya.
*tidak untuk dibawa pulang
Keanehan terakhir yang gw saksikan di hotel ini adalah nomer kamar. Setelah dua hari menginap di sini, gw baru nyadar bahwa gw nggak pernah tahu nomer kamar gw. Saat gw minta tolong resepsionis  untuk order taksi, dan mas resepsionis bertanya "Kamar nomer berapa mbak?" gw yang ketika itu berlari secepat kilat ke pintu depan, menyadari bahwa nomer kamar di hotel ini tidak ada di pintu nya. 

"Mas, sepertinya kamar saya nggak ada nomernya deh,saya nginap di lantai dua."

Lalu dengan manis mas resepsionis menjawab "Nomor kamar bisa dilihat di depan pintu kamar, di besi pembatasnya mbak."

Gw menemukan nomor kamar gw di besi pembatas gedung di depan pintu kamar. Sebagian kecil besi pembatas itu dibentuk menjadi angka untuk menunjukkan nomor kamar. Padahal sebenarnya fungsi besi untuk membatasi tamu kamar supaya nggak jatuh ke lantai dasar saat masuk ke dalam kamar. 

Pintu depan kamar dan ukiran nomor kamar di lantai 2

nomor kamar lantai dasar terletak di teras depan
aside from its uniqueness, or said it out of the box, hotel ini cozy dan comfy banget. Menginap di hotel ini untuk beristirahat atau keperluan bisnis pasti nggak akan kecewa. Hotel ini lokasinya enggak di pinggir jalan raya, jadi kita nggak akan terganggu dengan suara mobil lalu lalang ketika kita tidur. Dan hal yang paling penting, hotel ini jauh dari hingar-bingar pantai kuta. Selama menginap di sini gw nggak pernah denger ada bule mabok yang rusuh teriak-teriak di lorong kamar. Pelayanan hotel ini layak banget diacungi jempol, staff hotel nya selalu sigap dan ramah 24 jam membantu dan memberi informasi kepada para tamu hotelnya. Pemandangan kamar di setiap hotel ini langsung mengarah ke kolam renang yang biru dan jernih.
Kiri: bedroom . Kanan:kolam renang dan kamar hotel. 
Untuk para perempuan karir, hotel ini mungkin bisa dipertimbangkan karena management menyediakan hair dryer sebagai fasilitas tambahan. Jarang kan ada budget hotel yang nyediain hair dryer cyinn..?? 
Hair dryer di kamar
Menginap di The Grey Boutique inn membawa pengalaman tersendiri untuk Dewi dan gw, walaupun kita menertawai setiap sudut hotel ini, tapi hotel ini pula yang selalu jadi bahan pembicaraan gw dan Dewi setiap kita membahas liburan kita kemarin.

The Grey Inn Boutique Hotel

Alamat: Jalan Dewi Sri, The Grand Kuta Residende Lane No. 8X, 80361 Legian
Room rate:mulai dari IDR 328.000

Minus
- Jauh dari pantai
- Susah cari makanan murah.

Plus
- Nyaman untuk istirahat
- staff ramah
- Fasilitas berfungsi dengan baik

Kemungkinan menginap kembali: Ya bila dalam perjalanan bisnis. Tidak bila dalam rangka backpacking trip.

Foto diambil dari: Agoda, Booking.com dan dari sini


31 March 2014

A trip to Ripley's, Pattaya

Cara gue menghibur diri saat gue enggak dapet libur padahal lagi long weekend adalah dengan mengingat-ingat kembali libur panjang gue tahun kemarin : Liburan ke Thailand. 

Actually, semua tempat yang gue kunjungi di Bangkok serta Pattaya menarik dan berkesan banget. Salah satunya yaaa ini Museum Ripley’s believe it or Not, Pattaya. Jarak antara Bangkok dan Pattaya sama seperti jarak antara Jakarta dengan Bandung, kurang lebih dua jam perjalanan darat menggunakan mobil. Gue, nyokap, abang, dan kakak sepupu gue sampai di museum ini sekitar jam 5 sore, setelah sebelumnya mampir ke objek wisata lain di Pattaya. 

Museum Ripley’s terletak di dalam Garden park royal plaza. Bangunan depan plaza ini nyentrik banget dengan replika pesawat merah Ripley’s yang dibuat seolah-olah ‘nyusruk’ ke dalem gedung.

Bangunan depan Royal Plaza

Apa yaa istimewa nya Ripley’s ini? Agak sedikit kecewa sih gue.  Ngapain juga gue nyusun itinerary ke Ripley’s sini kalo cuma buat maen di dalem mol?? Gue males banget ngeliat mol lagiii mol lagiiii kalo liburan gini. Waktu di jakarta dan memilih Ripley’s sebagai tempat main sekaligus nunggu Tiffany Show, gue nggak tau kalo Museum Ripley’s letaknya di dalem mol kayak gini. Mungkin gue kurang cari info kali yah waktu itu?


Mengingat museum Ripley’s katanya cuma ada 4 di Asia, why dont we give it a try? :p

Sebelum bisa masuk ke atraksi Ripley’s, kita diharuskan membeli tiket atau menukar voucher yang sudah dibeli di counter khusus nya. Dan tau gak berapa lama yang gue butuhkan untuk nuker voucher doang???  SETENGAH JAM!!! Padahal yang nuker voucher waktu itu Cuma gue dan dua orang bule dari Canada doang. SEMPRUL! Gue enggak tau deh apa yang bikin pelayanan mereka buruk banget hari itu. Sampe-sampe itu bule merah muka nya gara-gara marah sama dua anak muda penjaga counter tiket. Enggak heran sih. Gue juga pengen banget marahin cah semprul dua ini. Soalnya kerjaan mereka cuma angkat telpon, sama cekikikan doang sambil ngemeng pake bahasa Thai.

“Hei!!! Can i talk to your manager please???!!” bentak mas bulay di sebelah gue.

Ehhh yang dibentak malah cekikikan sambil masuk ke dalem ruangan. Mabok genjer kali lu yeh mbak??
Begitu manager nya keluar, baru deh duo semprul itu serius ngurusin voucher. Sang manager yang bahasa inggrisnya cak adut ini, menjelaskan bahwa voucher kita belum bisa ditukarkan sebelum dapet konfirmasi dari perusahaan yang menjual voucher tersebut kepada kita. Okelah gue pasrah nunggu sambil ngobrol sama dua orang bulay ini. Alhamdulillah beberapa menit kemudian voucher gue bisa dituker dengan tiket yang dilingkarkan ke pergelangan tangan. Sementara si bulay udah mulai fed up soalnya dia mesti menunggu lebih lama daripada gue dan kemudian merasa najis tralala main di Ripley’s sini. Mereka berdua pulang.

Gue beli paket 7 permainan disini. Soalnya kalo beli eceran harganya mehong banget. Pilih mana sama enggak makan berhari-hari di bangkok hayooo???

dannn.. ini lah review atraksi-atraksi yang gue mainin di Ripley’s:

Infinity Maze
Infinity Maze adalah sebuah ruangan labirin yang penuh dengan kaca. Agak mirip sama rumah kaca di Dufan. Tapi masih kerenan ini lah. Sebelom masuk ke ruangan atraksi, kita diberikan sarung sepatu dan tangan khusus sama mbak-mbak penjaga counter. Peralatan ini wajib dipakai untuk memelihara kaca-kaca di dalam ruangan atraksi. Supaya kaca nya gak banyak cemong nya kali yah. Begitu masuk ruangan, kita berempat bingung. MAMPUS! Ruangan gelap, kaca dimana-mana, kita berempat pegangan tangan sambil senderan di salah satu kaca besar, kakak sepupu gue udah mulai ketakutan.

Gimana kalo kita enggak bisa keluar??? Gimana kalo kita tersesat disini berhari-hari???

Doi udah mau nangis tuh. Gue juga sih. Disitu gue baru sadar gue ternyata claustrophobic. Kita berempat memutuskan menunggu rombongan bule yang sebelumnya lagi siap-siap di belakang kita untuk masuk ke jebakan betmen ini. Siapa tau mereka punya ide gimana caranya keluar dari sini. Tunggu punya tunggu, kok enggak ada yang dateng. Kakak sepupu gue pun lari ke pintu pertama kita masuk dan gedor- gedor pintu sambil teriak

“MBAKKK BUKA MBAK.TOLONG MBAK BUKAIN!!!!”

Enggak ada sahutan. Pintunya pun enggak bisa dibuka. Kita pasrah. Enggak berapa lama kemudian muncul sosok mbak-mbak dari kaca sebelah kanan, ngomong pake bahasa Thai sambil nunjuk-nunjuk pintu.

Oh ternyata itu pintu nya toh..

Ini contoh ruangan di Infinity Maze. Ini bukan gue loh yaa yang di foto.
Begitu kita buka pintu, muncul ruangan lain yang terang benderang. Masih penuh dengan kaca. Kali ini kita udah mulai ngerti cara mainnya. Jadi strategi kita berempat adalah gandengan kalo kita ada di ruangan gelap supaya kita enggak mencar-mencar, dan salah satu harus mau jadi korban buat nahan satu pintu yang masih terbuka, sebelum pintu lain bisa ditemukan. Thank God beberapa menit kemudian, kita selamat sampai ke pintu keluar..
Hayooo kok mbak-mbak tadi bisa tau kita enggak ketemu pintu? Ternyata di depan konter, disediakan layar televisi untuk memantau perkembangan domba-domba yang tersesat di dalam. Jadi, kalo ada grup yang enggak bisa nemuin jalan, mbak-mbak akan dengan sigap menolong.

Sekarang lu bisa bayangin gimana ngakak nya si embak begitu liat kakak sepupu gue gedor-gedor pintu??

3 D Moving Theatre
Habis memompa adrenalin, kita memutuskan untuk main ini aja. Katanya atraksi ini namanya 12D moving Theatre. Konsepnya sama seperti moving theatre di dufan, tapi ini lebih seru dan lebih nyata. Kita nonton Bamboo Express, petualangan ke dalem hutan sambil naik roller coaster gitu deh. Mayan lahhh buat melepaskan ketegangan tadi..
List film yang diputar di 3D Movie Theatre
The Vault
Udah mulai ceria lagi nih rombongan, up to the next adventure. The Vault. Di atraksi ini, kita bermain sebagai agen mission yang terjebak di ruangan laser security ala-ala film barat gitu deh. Strateginya, satu grup dibagi dua, ada beberapa lokasi yang harus kita non aktifkan laser nya supaya kita bisa keluar dari ruangan. Nah, untuk menuju lokasi tersebut, kita harus melewati laser security yang makin ke depan, makin rumit. Dari mulai merunduk, merayap, semua gaya dikeluarin supaya badan kita gak kena laser nya. Coba deh lo bayangin, gimana cara lo jalan merayap, tapi di bawah perut lo ada laser nya? Saat itu mungkin kita lebih mirip anak breakdance alay daripada agen mission.

Yoo Mas'e, Mbak'e tiati encok
Udah tiga permainan nih diselesaiin. Sisa 4 lagi. Tapi jam udah menunjukkan pukul 7 kurang 15. Sementara jam 7 pas kita harus sampai di Tiffany, untuk melihat pertunjukan ladyboy. Nueng driver kita, berpesan agar tiket tidak dibuang dari pergelangan tangan, supaya kita masih bisa lanjut lagi main ke sini.

Kemudian, abis nonton lady boy, kita balik ke sini lagi..

Scream In The Dark
Gue kira ini rumah hantu. Soalnya mas-mas yang jaga counter nya dandan ala badut serem. Untuk main atraksi ini, kita harus naik kereta yang jalan satu-satu secara bergantian. Satu kereta isinya dua orang. Mirip rumah hantu di taman safari gitu deh. Kita dikasih senjata untuk nembak berbagai macam makhluk di sana. Untuk menambah score, kita juga harus berteriak begitu ada tulisan SCREAM! Semakin kenceng kita teriak, semakin bertambah banyak score nya. Gue berpasangan sama abang gue. Tugas dia nembak sebelah kanan, gue sebelah kiri. Tugas ekstra gue adalah berteriak sekencang-kencangnya, tenggorokan gue sakit begitu keluar dari situ akibat terlalu menjiwai peran. :malus.
Loket masuk Scream in the Dark
Louis Tussaud's Waxworks
Pernah denger Madame Tussaud’s?Pernah pasti kan? Louis Tussaud’s adalah museum lilin seperti madame Tussaud’s. Tapi ketika lo masuk sini, jangan ngarep lo bakal ngeliat patung sebagus di Madamme Tusaud’s deh, karena patung-patung lilin disini lebih mirip patung KW daripada patung asli. Bahkan saking enggak miripnya patung disni, kita sampe enggak bisa nebak patung siapa yang lagi berdiri depan kita. Walaupun ada papan keterangan untuk setiap patung disana, dijamin kita akan makin bingung setelah mbaca papan nya. Jangan-jangan museum ini emang diciptakan untuk bikin pengunjungnya bingung??
Kita lagi ngehack fesbuk nyonya-nyonya sosialita
Jangan sedih yaa..Tapi kamu nggak mirip sayang!Yuk, kita pulang aja!
Museum Ripley’s Believe it Or Not
Masih belum ilang bingung dari Louis Tussaud’s, kita berempat masuk ke museum yang makin bikin bingung, Museum Ripley’s Believe it or Not. Yang jaman kecilnya sering nonton acara ini di ANTV pasti bakalan seneng banget karena sebagian besar cerita aneh tapi nyata yang kita liat di tv, bisa kita temui di sini. Manusia terkurus di dunia, tertinggi, terpendek, tergemuk, manusia serigala, miniatur titanic dari korek api,ikan hiu, manusia yang lolos dari serangan hiu, wah banyak banget deh. Total ada sekitar 350 kategori keajaiban dan keanehan dari seluruh dunia. Gue nggak nemuin keajaiban di Indonesia kayaknya? Kalo keajaiban dan cerita tahayul Indonesia masuk sini mah, gue jamin isi museum sini kalah sama ceritanya Indonesia. :P

Beberapa keanehan yang ada di Museum Ripley's. Gue lupa ceritanya gimana itu kepala bisa nyangkut di tongkat.
Siapa yang beratnya paling ringan saat di Bulan? Gue.


Kita keluar dari museum ini sekitar jam 22:30. Capek, tapi puas banget. Ada satu atraksi lagi yang belom kita mainin: Haunted Adventure. Sebenernya pas masuk ke atraksi lain, kita udah berkali-kali lewatin wahana ini dan melihat dengan mata kepala sendiri kengerian haunted Adventure ini, dan sepupu gue udah sukses parno duluan. Gimana enggak parno? Pemandangan yang kita liat itu segerombolan orang dikejar-kejar sama zombie yang bawa gergaji mesin!! 


Untungnya, jam segini zombie-zombie nya udah pada keluar dari ruang atraksi buat istirahat, cape juga kali yeh nakutin orang. Jadi, ada alasan yang masuk akal lah kenapa kita enggak main disini. 
Pas nungguin sepupu gue foto-foto, gue nemuin satu zombie lagi beli minuman. Jahil gue pun kumat, gue berdiri di belakang dia, dan pas dia berbalik badan, gue kagetin dia dengan berteriak sekeras-kerasnya. Dia agak shock sih. Tapi abis itu muke nye datar aja. Enggak ada ekspresi apa-apa, trus langsung cabut aja gitu. Tuntutan kerjaan kali yah?

Overall, main di Ripley’s seru banget. Apalagi buat grup gue yang setiap harinya sibuk sama urusan masing-masing. Lagi liburan aja kadang sibuk sendiri-sendiri. Wahana Ripley’s ini secara nggak langsung membuat ikatan kita kuat lagi, dengan atraksi-atraksi nya yang sebagian besar membutuhkan kerjasama tim. Miris nggak sih kalau kenyataannya perlu sebuah permainan untuk mendekatkan orang-orang yang selama ini jauh dengan kita?

Selamat menikmati liburan panjang mu kawan
Kiss kissss
-Cha-

About Trip kita
Contact person: Sandy Djilin
PIN BB: 28BB66C3
Kalo mau pesen voucher main di Ripleys dan enggak punya Credit card untuk bayar, coba aja pesen voucher disini. Metode pembayarannya bisa lewat transfer bank. Gue sendiri beli beberapa voucher main dan atraksi lain dari trip kita.

About Ripleys Believe it or not
Add: 218 Building, Royal Garden Hotel Plaza
Room No. C 20-21 Moo 10, Pattaya beach.
Tambon Nong Prue, Banglamung, Chonburi 20260.
phones. 66 (38) 710-294-8
Fax. 66 (38) 710-487
Jam operasional: 08.00 : 23.00


02 December 2013

Pengalaman Pertama Diving

Diving? Maksudnya kegiatan menyelam yang cuma pake tabung oksigen itu? Mimpi apa? Berenang aja nggak lulus. Tapi itulah faktanya. Gw berhasil diving hari itu di sore yang terik di perairan.. (ummm wait.. perairan mana sih itu?) yaa pokoknya nggak jauh lah dari tanjung benoa. Awalnya ide diving ini emang dari gw sih. Habisnya kalo liburan ke Bali yang setiap hari nya pulang-pergi ke pantai aja mana seru? Karena kebetulan ketemu voucher diskon diving disini, maka apa salahnya nyoba liburan yang berbeda selain liburan-liatin bule jemur- di bali ya nggak?

Sekitar jam 2 siang, gw dan Dewi (sepupu yang baru pulang dari Ausie) sampai di kantor pengelola rekreasi air di Tanjung Benoa, namanya North Coast BMR(Benoa Marine Recreation). Jadi BMR ini punya berbagai macam rekreasi air untuk ditawarkan ke wisatawan yang main ke sini, mulai dari donut boat, diving,banana boat, flying fish, sampai parasailing. Setiap wisatawan yang datang ke sini akan dibimbing oleh satu orang guide gratis untuk memenuhi kebutuhan mereka. Wisatawan yang belum tau mau main apa, biasanya dikasih daftar permainan air beserta gambarnya.Daftar pemainannya panjang dan berlembar-lembar, sudah kayak menu makan ala ala resto. Berhubung kita sudah beli voucher jauh-jauh hari sebelumnya, maka kita hanya tinggal menunjukkan bukti pembayaran dan langsung bisa menikmati semua permainan yang sudah dibayar.


Guide kita, sebut saja namanya Wawan memberi saran agar kita mencoba diving terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan permainan lain karena diving memerlukan waktu yang lebih lama daripada permainan lain. Tanpa buang-buang waktu, mas Wawan mencarikan perlengkapan menyelam sesuai dengan ukuran tubuh kita. Sebelum diving dimulai, mas Wawan memberikan kuliah tujuh menit tentang pengetahuan dasar menyelam, mulai dari sandi tangan sampai cara mengoperasikan alat menyelam. Untuk penyelam pemula, mungkin sedikit nggak ngerti sama penjelasan mas Wawan ini, tapi jangan khawatir, yang paling penting itu praktek di lapangannya.
Mas Wawan lagi kultum, kitanya lagi sok asik.
Tahap awal yang harus dilalui oleh penyelam pemula sebelum diving adalah pengenalan kolam. Oleh Diving Instructor(DI) mula-mula kita diajak ‘kenalan’ dengan kolam yang kedalamannya 1,5 meter. Lalu setelah terbiasa, DI menuntun kita ke kolam yang kedalamannya 3 Meter. 3 METER!Berenang di kolam biasa aja sehari-harinya nggak berani lebih dari 1,5Meter. Hiks. Begitu sampai di dasar kolam, gw langsung panik. Nggak ngerti cara napas yang benar, gerak tangan dan badan nggak beraturan seperti korban kejahatan yang ditenggelemin paksa pake pemberat. Lalu gw langsung minta DI untuk membawa gw naik ke permukaan. Begitu sampai di atas, tau nggak apa yang gw bilang sama mas-mas DI?

“Aduhhh mas.. saya takut tenggelem!!”

Mas-mas DI hanya bengong dan menjawab “Lho mbak? Jangan takut tenggelem.kan ada tabung oksigen. Kalo diving kan emang mesti tenggelem”

Oiyaaa bener juga yaa..

Walhasil pengenalan kolam gw dan dewi memerlukan waktu hampir satu jam karena kita mamerlukan waktu lama untuk bisa tenang di dalam air dan kita belum bisa melakukan ekualisasi telinga dengan benar. Dewi berhasil bikin nyali gw ciut dengan tiba-tiba ngebatalin niatnya untuk menyelam. Dewi kemudian memilih ocean walk(jalan-jalan di dalam laut pake helm ala ala astronot) sebagai penggantinya, kata dia itu lebih safety buat dia. Okelah.
        Pict: Pengenalan kolam


Begitu selesai pengenalan kolam, maka saat yang dinanti-nanti pun tiba. MENYELAM di LAUT LEPAS. Bukan di KOLAM RENANG. Hahahaha.. Kita dibawa ke perairan menggunakan boat cepat dari BMR. Rasanya sore itu perasaan gw campur aduk. Antara excited, dan takut. Mungkin saat itu muka gw lebih seperti imigran gelap yang mau ditenggelemin ke laut lepas. Saat di kapal, mas-mas DI ngasih gw beberapa bungkus roti untuk diselipkan di bagian kaki. Roti itu buat ikan-ikan unyu di dalam laut sana.

“Nggak usah takut mbak, nanti sudah sampe dalem pasti lupa sama takunya begitu lihat ikan" Begitu kata mas-mas DI

“mas.. mas.. liat ikan doang mah di rumah saya mah banyaaak” (sahut gw dalam hati)

Laju kapal terasa melambat. Kapal kita berhenti di sebelah kapal lain milik BMR yang mengangkut wisatawan untuk ocean walking. Dewi dipindahkan ke kapal ocean walking, dan gw beserta mas-mas DI masih harus berlayar kira-kira lima menit jauhnya dari kapal Dewi.  Saat itu nyali masih sempet penggalauan tuh. Nyelem nggak yah....
Tiba-tiba mesin kapal dimatikan. Inilah gw, seorang diri bersama mas-mas DI menyelam di tengah lautan lepas. Perasaan gw semakin nggak karuan. Gimana kalau nanti gw tenggelam dan nggak bisa napas?

Selesai memasang peralatan menyelam, gw dan mas DI pun terjun ke dalam air. Dia sudah menyelam duluan, sementara gw hanya bengong melihat dia menghilang di antara birunya air laut…

Daan dia muncul lagi..

“Ayo mbak.. kita ke bawah. Pasang oksigennya ya..”


Begitu oksigen gw pasang, Mas-mas DI langsung menarik tubuh gw ke dalam air. Gw panik dan berontak di dalem air. DI memberi sinyal untuk tenang dan menuntun gw untuk berenang menuju sebuah pipa besi yang tertanam di bawah laut. Napas gw memburu banget,rasanya kayak kekurangan nafas mulu. Gw masih belum terbiasa bernafas dari mulut.  Suasana di dalam sana terasa begitu sunyi dan dingin, gw hanya bisa mendengar suara tarikan nafas dan percakapan gwsaya dengan diri gw sendiri. Gw nggak pernah merasa se-sepi ini seumur hidup gw. Berenang ke pipa besi bawah laut itu terasa lamaaa sekali, padahal kenyataannya penyelaman menuju pipa besi tersebut mungkin hanya sekitar lima menit aja. Saat pipa besi tersebut bisa gw raih, mas DI pindah posisi berhadapan dengan gw dan mengeluarkan roti yang sudah dia selipkan di baju selamnya. Nggak sampai satu menit, ikan-ikan mulai mengerubuti DI. DI kemudian memberi isyarat ke gw untuk melakukan hal yang sama. “WOW!” kerumunan ikan warna-warni berenang dengan begitu anggun berebut sepotong roti milik gw. Benar ternyata kata mas DI di atas kapal tadi, begitu melihat ikan, gw pasti lupa. Terumbu karang disini bagus, Ikan nya juga warna warni. Tapi sayang, jarak pandang mata terbatas.  


Melihat gw bisa menguasai keadaan, DI mengajak gw untuk berenang lebih dalam lagi. Di kedalaman kira-kira 5 meter, DI berhenti dan memberi sinyal  untuk melihat ke bawah. Dan WOW. Terlihat barisan terumbu karang yang menari-nari mengikuti arus air. Begitu takjubnya gw sampai terbawa arus air. Gw belum bisa menyeimbangkan diri gw di dalam sana. Rasanya kayak ketiup angin kenceng dan kita nggak punya tempat buat pegangan. Dan lagi-lagi gw panik. DI memberi isyarat untuk memegang pipa besi yang ada di depan gw, Walaupun sudah berhasil meraih pipa besi itu, badan gw masih terhempas sama  arus. Gw lalu memegang pipa besi itu kuat-kuat karena takut kebawa arus dan mas DI nggak sigap nangkep badan gw di air. Gw panik dan nggak bisa menguasai diri. DI menghampiri gw dan memberi sinyal tangan “semua akan baik-baik saja”. Gw menggeleng, telinga gw terasa begitu sakit. Berkali-kali gw coba ekualisasi, tapi ekualisasi yang gw lakukan ternyata nggak berhasil meredakan sakit di telinga gw yang semakin menjadi. Sampai-sampai gw ngerasa gendang telinga gw mau meledak saking sakitnya. Gw kembali mengisyaratkan kepada DI untuk naik ke permukaan. Semua isyarat tangan yang gw pelajari tadi terlupa begitu aja berganti dengan gerakan tubuh yang nggak beraturan. Nafas gw tersengal-sengal. Mengetahui gw diserang panik yang berlebihan, DI langsung menekan tombol peralatan selam gw dan menarik tubuh gw ke permukaan.

AHHH  SELAMAAATTT

Rasanya senang kembali ke atas air dan bisa bernafas normal layaknya manusia. Bukan manusia ikan.hahahahahahaha. Gw berusaha mengambil nafas panjang.Rasanya itu pengalaman pertama gw dekat dan takut dengan kematian.. "Begini tohhh rasanya diving..." Gw senyum-senyum sendiri sambil menghadapkan muka gw ke teriknya matahari Bali. 
Kapok? Nggak sih. Mungkin lain kali gw akan mencoba latihan di kolam berhari-hari dulu sebelum menyelam ke laut yang sebenarnya. Yang gw dengar sih Diving itu bagus lhoo untuk melatih ketenangan diri.

P.s: Gw suka banget kehidupan bawah laut Indonesia. Keren. Pake kata BANGET  *nyengir
- oiyaaa Dewi nggak jadi ocean walking karena telinganya nggak tahan dengan kedalaman air.Saat gwjemput di kapal, katanya dia baru saja muntah.huakakakakakaka